”Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjidil haram ke masjidil aqsa yang telah Kmi berkati sekitarnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran dan Kekuasaan) Kami.” (Q.S. Al-Israa’: 1)
Permusuhan Kaum Musyrikin Terhadap Islam
Ketika Allah Ta’ala mengutus Muhammad saw. dengan membawa risalah kebenaran dan hidayah-Nya, untuk dimenangkan terhadap seluruh agama yang ada, kaum musyrikin membenci Nabi serta kaum muslimin. Hal itu Allah tegaskan di QS. As-Shaf ayat 8-9, ”Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci.” Kaum musyrikin yang disebutkan di ayat ini dimotori kaum Yahudi dan Nasrani. Begitu dalamnya kebencian mereka hingga segala cara dan tipu daya mereka lakukan agar Islam kehilangan pembelanya sebagaimana firman Allah di QS. Al-Baqarah: 120, ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho(rela) kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ” Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
Maka sejak itulah permusuhan terhadap Islam berlangsung sepanjang sejarah, tidak pernah mengendor dan berhenti sampai sekarang. Mereka, kaum musyrikin, kaum Yahudi, dan kaum Nasrani, saling bekerja sama untuk mengoyak Islam dari gelanggang kehidupan dan menggiring kaum muslimin ke jalan yang salah. Hingga hari ini rencana jahat mereka terhadap tanah Arab dan bumi Palestina tampak berhasil baik. Mereka berhasil meruntuhkan Khilafah Islam, menjadikan jazirah Arab terpecah-belah menjadi negara-negara kecil nan egois (dengan kekayaannya masing-masing), serta memasuki dan menduduki wilayah Palestina.
Kronologi Konspirasi Yahudi Untuk Menduduki Bumi Palestina
1. Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa Kenabian jatuh ke tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail 'alaihissalam. Itu pun turun di Makkah, bukan Madinah tempat mereka tinggal di sana. Mereka lalu membuat makar, atau bekerja sama dengan kaum kafir Quraisy untuk menjatuhkan Rasulullah saw dan kaum muslimin. Dalam peperangan-perangan itu, kabilah-kabilah Yahudi tersingkir, seperti kabilah Nadhir, Qainuqa, Quraidhah, hingga benteng terakhir mereka di Khaibar.
2. Setelah mengalami kekalahan di masa Nabi saw. dan Khalifah-khalifah setelahnya, kaum Yahudi menyingkir dari Jazirah Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi-yahudi lain di Eropa. Dalam masa ratusan tahun Yahudi menyebar di berbagai negara Eropa, seperti Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan sebagainya.
3. Dalam mengembangkan komunitas, kaum Yahudi tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan asimilasi. Mereka memelihara warisan-warisan agamanya (berdasar kitab Talmud), dan membangun kesombongan etnik sampai melampaui batas. Mereka menjalankan bisnis berbasis ribawi dan mereka melakukan ritual-ritual pengorbanan yang kejam. Ritual semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi diusir dari negara-negara tertentu di Eropa, salah satunya dari Spanyol. Spanyol melarang Yahudi tinggal di negerinya sampai saat ini, karena kekejaman mereka dalam ritual keji itu.
4. Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke negara-negara lain yang masih mau menampung mereka, antara lain ke Inggris dan Eropa Timur. Saat rakyat Eropa mulai eksodus menuju benua baru ditemukan oleh Columbus (Amerika), Yahudi ikut serta. Ketika Amerika merdeka dari tangan Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya.
5. Yahudi juga datang ke wilayah Turki Utsmani sekitar 700 atau 800 tahun setelah era Nabi saw. Khilafah Islam yang telah melupakan kejahatan Yahudi di Madinah menerima mereka dengan baik di tengah-tengah masyarakat Turki Utsmani sebagai aplikasi ajaran Islam yang memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nashrani tinggal, selama mereka membayar jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri ini, mereka diberi pelayanan dan penghormatan, layaknya warga negara Islam. Setelah negara-negara Eropa banyak mengusir mereka, baru di Turki inilah mereka diperlakukan dengan baik, sehingga mereka pun menjaga diri dari (maaf) kebejatan yang biasa mereka lakukan. Tetapi mereka membalas kebaikan itu dengan sebuah makar besar peruntuhan Khilafah Islam Utsmaniyah. Di Turki, kaum Yahudi menyiapkan konsep kejahatan global mereka untuk menguasai dunia.
6. Dengan Deklarasi Balfour 1917, pemerintah Inggris mendukung rencana Zionis Yahudi untuk merebut tanah Palestina dan menyebutnya sebagai ‘tanah air’ bagi Yahudi, dengan syarat mereka tidak boleh merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana. Saat itu, sebagian terbesar wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Utsmani, dan batas-batas yang akan menjadi Palestina telah dibuat sebagai bagian dari Persetujuan Sykes-Picot 16 Mei 1916 antara Inggris dan Prancis. Sebagai balasan untuk komitmen dalam deklarasi itu, komunitas Yahudi akan berusaha meyakinkan Amerika Serikat untuk ikut dalam Perang Dunia I. Tanggal 3 Maret 1924, Mustafa Kemal Pasha at-Taturk dengan dukungan Inggris menggulingkan Khilafah Utsman yang saat itu dipimpin oleh Abdul Majid II, dan secara resmi menghapuskan sistem Khilafah Islam yang telah berjalan selama 1342 tahun. Sebagai balasan atas penggulingan itu, Turki menandatangani Traktat Lausanne yang menyatakan kemerdekaan Turki dan penarikan pasukan Inggris beserta sekutu-sekutunya dari wilayah Turki. Mustafa Kemal Pasha lalu menjadi Presiden pertama Turki yang sekuler dan anti-Islam.
7. Runtuhnya Khalifah Islam diiringi terpecah belahnya Jazirah Arab menjadi negara-negara atau kerajaan-kerajaan kecil. Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di Palestina, waktu itu ada tiga pilihan tempat: Palestina, Agentina, atau Ethiopia. Pilihan akhirnya jatuh ke Palestina, yang dekat dengan sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri di Yerusalem dan sekitarnya. Karena sadar akan resiko pendudukan itu, Yahudi mempersiapkan segala macam kekuatan, termasuk mendidik agen-agen loyalisnya di negara-negara Arab agar perpecahan yang terjadi tidak hanya mencakup wilayah kekuasaan tetapi juga dalam hal pemikiran Islam. Dengan terpecahnya pemikiran Islam di antara negara-negara Arab, Yahudi leluasa mengadu domba dan membuat konflik senantiasa menyala di Jazirah Arab, sehingga tanpa terasa sedikit demi sedikit imigrasi Yahudi ke bumi Palestina tidak lagi menjadi perhatian negara-negara Islam di sekelilingnya.
Bersatu Dukung & Bela Palestina
Setelah mengetahui betapa makar yang dibuat oleh kaum musyrikin Yahudi , permusuhan dan kebenciannya terhadap Islam, maka sebagai pembela Islam, maka kita harus saling bekerja sama dan bersatu mendukung perjuangan Palestina dan HAMAS. Ini adalah perang yang dikobarkan untuk mematikan cahaya Islam. Meskipun Allah SWT telah menjamin bahwa segala makar yang dilakukan kaum musyrikin akan dikalahkan oleh kekuasaan-Nya dan adalah Allah sebaik-baik pembuat makar, tetapi kita tidak boleh berpangku tangan. Bagi yang berpunya harta, mari bantu dengan dana. Bagi yang berpunya persenjataan, teknik perang, atau pengobatan serta berkesempatan pergi ke sana, mari bantu dengan tenaga. Dan bagi yang tak berdaya tenaga atau pikiran, atau dana, mari bantu dengan do’a. Salah satunya adalah dengan membaca do’a Qunut Nazilah di raka’at terakhir setiap shalat kita, sebagaimana yang Rasulullah saw lakukan saat keadaan umat Islam dalam bahaya.
”Allaahummaghfirlanaa wa lil mukminiina wal mukminaati wal muslimiina wal muslimaatiwa allaf baina quluubihim wa ash_lih dzaata bainahum wan_shur_hum 'alaa 'aduwwaka wa 'aduwwihim
Allaahummal'anil kafaarotalladziina yashudduuna 'an sabiilika wa yukadz_dzibuuna rusulaka wa yuqottiluuna awliyaa'aka
Allaahumma khoolif baina quluubihim wa zalzil aqdaamahum wa anzil bihim ba'sakalladziina laa yurodduu 'anil qoumil mujrimiin”
Wallahua'lam. (riz)
Film
Minggu, 22 Maret 2009
Kamis, 25 September 2008
Luqman Al-Hakim Seorang Nabi?
Para ulama salaf berikhtilaf mengenai kapasitas Luqman Sang Bijak ini: apakah dia seorang nabi atau hamba Allah yang saleh tanpa menerima kenabian? Mengenai hal ini ada dua pendapat. Pendapat yang pertama yang diyakini sebagian besar ulama adalah, bahwa Luqman adalah hamba Allah yang saleh tanpa menerima kenabian. Hal ini berdasarkan latar belakang profesi Luqman yang dikisahkan sebagai hamba atau orang suruhan.
Pendapat yang kedua, adalah bahwa Luqman termasuk seorang nabi yang tidak Allah sebutkan kenabiannya, sebagaimana firman Allah, ”Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepdamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.....” (Q.S. An-Nisaa’: 164)
Baiknya, kita melihat kepada kisah-kisah yang lebih jauh tentang Luqman al-hakim ini. Menurut Ibnu Abbas, Luqman adalah seorang hamba berkebangsaan Habsyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Sementara Jabir bin Abdillah menggambarkan Luqman sebagai orang bertubuh pendek dan berhidung pesek. Sedangkan Said bin Musayyab mengatakan bahwa Luqman berasal dari kota Sudan, memiliki kekuatan, dan mendapat hikmah dari Allah, namun dia tidak menerima kenabian. Adapun ibnu Jarir berpendapat bahwa Luqman adalah seorang hamba sahaya berbangsa Habsyi yang berprofesi sebagai tukang jagal.
Alkisah, suatu hari majikan Luqman memerintahkannya untuk menyembelih seekor domba. Dia berkata kepada Luqman, “Sembelihkan domba ini untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya. Si majikan berkata, “Ambillah bagian dagingnya yang terbaik.” Lalu Luqman mengambil lidah dan hati domba kemudian menyerahkannya pada Si Majikan.
Si Majikan terdiam keheranan, ia menyuruhnya mengambil bagian daging yang terbaik tetapi mengapa lidah dan hati yang diberikan Luqman? Tetapi keheranan itu segera ditepisnya mengingat Luqman adalah orang yang terkenal jujur dan baik akhlaknya. Tidak mungkin ia bermaksud buruk dengan memberikan lidah dan hati domba itu kepadanya.
Beberapa waktu kemudian, Si Majikan kembali memerintahkan Luqman menyembelih domba. Kali ini ia berkata, “Sembelihkan domba yang ini untuk kami. Dan Ambillah bagian dagingnya yang terburuk.” Luqman pun menyembelih domba itu lalu mengambil lidah dan hati domba. Kemudian menyerahkannya kepada Si Majikan.
Demi melihat apa yang diserahkan Luqman kepadanya, dengan gusar Si Majikan berkata, “Aku menyuruhmu mengambil dua bagian daging domba yang terbaik lalu kamu menyerahkan lidah dan hatinya. Kemudian aku menyuruhmu mengeluarkan bagian domba yang terburuk, tetapi kamu memberikan bagian yang sama. Apa maksudmu?”
Luqman menjawab, “Sesunguhnya tiada perkara yang lebih baik daripada lidah dan hati. Jika keduanya baik maka selamatlah jiwa manusia. Juga tiada perkara yang lebih buruk daripada lidah dan hati. Sebab jiwa manusia bisa binasa disebabkan oleh keburukan lidah dan hati sendiri.”
Dari kisah di atas, tergambar bahwa Luqman adalah seorang hamba sahaya. Inilah mengapa mayoritas ulama salaf memandang Luqman bukan sebagai nabi. Sebab sejarah mencatat para nabi dan rasul yang diutus Allah selalu berasal dari kalangan keluarga terhormat diantara kaumnya. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat kecenderungan manusia mendengarkan kata-kata orang yang terhormat dalam golongannya.
Bila demikian halnya, kita tidak perlu lagi memusingkan dalam kapasitas sebagai apakah Luqman dikisahkan dalam Al-Qur’an. Sebab sesungguhnya Allah telah berfirman, ”Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ”Bersyukurlah (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S. 31: 12).
Demikianlah Allah telah memberikan karunia secara khusus kepada Luqman, kelebihan yang tidak diberikan Allah kepada manusia sebangsanya yang hidup pada masa itu. Allah menyuruhnya bersyukur, dan bersyukurlah Luqman. Maka sesungguhnya manfaat syukurnya berpulang pada dirinya sendiri.
Petiklah kisah dan kata-kata berhikmah dari Luqman yang lainnya. Suatu kali Luqman didatangi seseorang, lalu bertanya, “Apa yang dapat mengantarkanmu kepada kebajikan dalam bertutur?” Luqman menjawab, Berkata jujur dan tidak mengatakan hal yang tidak penting.”
Luqman pun pernah ditanya ihwal prestasi yang dicapainya. Dia menjawab. “Hai anak saudaraku, jika engkau menyimak apa yang aku katakan kepadamu, kamupun akan berprestasi seperti aku.” Lalu Luqman berkata, “Aku menjaga mengontrol pandanganku, mejaga lidahku, menjaga kesucian makananku, memelihara kemaluanku, berkata jujur, memenuhi janjiku, menghormati tamuku, memelihara hubungan baik dengan tetanggaku, dan meninggalkan perkara yang tidak penting. Itulah yang membuat diriku seperti yang kamu lihat.” Demikianlah Luqman dan kebijaksanaan yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya.
Pendapat yang kedua, adalah bahwa Luqman termasuk seorang nabi yang tidak Allah sebutkan kenabiannya, sebagaimana firman Allah, ”Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepdamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.....” (Q.S. An-Nisaa’: 164)
Baiknya, kita melihat kepada kisah-kisah yang lebih jauh tentang Luqman al-hakim ini. Menurut Ibnu Abbas, Luqman adalah seorang hamba berkebangsaan Habsyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Sementara Jabir bin Abdillah menggambarkan Luqman sebagai orang bertubuh pendek dan berhidung pesek. Sedangkan Said bin Musayyab mengatakan bahwa Luqman berasal dari kota Sudan, memiliki kekuatan, dan mendapat hikmah dari Allah, namun dia tidak menerima kenabian. Adapun ibnu Jarir berpendapat bahwa Luqman adalah seorang hamba sahaya berbangsa Habsyi yang berprofesi sebagai tukang jagal.
Alkisah, suatu hari majikan Luqman memerintahkannya untuk menyembelih seekor domba. Dia berkata kepada Luqman, “Sembelihkan domba ini untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya. Si majikan berkata, “Ambillah bagian dagingnya yang terbaik.” Lalu Luqman mengambil lidah dan hati domba kemudian menyerahkannya pada Si Majikan.
Si Majikan terdiam keheranan, ia menyuruhnya mengambil bagian daging yang terbaik tetapi mengapa lidah dan hati yang diberikan Luqman? Tetapi keheranan itu segera ditepisnya mengingat Luqman adalah orang yang terkenal jujur dan baik akhlaknya. Tidak mungkin ia bermaksud buruk dengan memberikan lidah dan hati domba itu kepadanya.
Beberapa waktu kemudian, Si Majikan kembali memerintahkan Luqman menyembelih domba. Kali ini ia berkata, “Sembelihkan domba yang ini untuk kami. Dan Ambillah bagian dagingnya yang terburuk.” Luqman pun menyembelih domba itu lalu mengambil lidah dan hati domba. Kemudian menyerahkannya kepada Si Majikan.
Demi melihat apa yang diserahkan Luqman kepadanya, dengan gusar Si Majikan berkata, “Aku menyuruhmu mengambil dua bagian daging domba yang terbaik lalu kamu menyerahkan lidah dan hatinya. Kemudian aku menyuruhmu mengeluarkan bagian domba yang terburuk, tetapi kamu memberikan bagian yang sama. Apa maksudmu?”
Luqman menjawab, “Sesunguhnya tiada perkara yang lebih baik daripada lidah dan hati. Jika keduanya baik maka selamatlah jiwa manusia. Juga tiada perkara yang lebih buruk daripada lidah dan hati. Sebab jiwa manusia bisa binasa disebabkan oleh keburukan lidah dan hati sendiri.”
Dari kisah di atas, tergambar bahwa Luqman adalah seorang hamba sahaya. Inilah mengapa mayoritas ulama salaf memandang Luqman bukan sebagai nabi. Sebab sejarah mencatat para nabi dan rasul yang diutus Allah selalu berasal dari kalangan keluarga terhormat diantara kaumnya. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat kecenderungan manusia mendengarkan kata-kata orang yang terhormat dalam golongannya.
Bila demikian halnya, kita tidak perlu lagi memusingkan dalam kapasitas sebagai apakah Luqman dikisahkan dalam Al-Qur’an. Sebab sesungguhnya Allah telah berfirman, ”Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ”Bersyukurlah (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S. 31: 12).
Demikianlah Allah telah memberikan karunia secara khusus kepada Luqman, kelebihan yang tidak diberikan Allah kepada manusia sebangsanya yang hidup pada masa itu. Allah menyuruhnya bersyukur, dan bersyukurlah Luqman. Maka sesungguhnya manfaat syukurnya berpulang pada dirinya sendiri.
Petiklah kisah dan kata-kata berhikmah dari Luqman yang lainnya. Suatu kali Luqman didatangi seseorang, lalu bertanya, “Apa yang dapat mengantarkanmu kepada kebajikan dalam bertutur?” Luqman menjawab, Berkata jujur dan tidak mengatakan hal yang tidak penting.”
Luqman pun pernah ditanya ihwal prestasi yang dicapainya. Dia menjawab. “Hai anak saudaraku, jika engkau menyimak apa yang aku katakan kepadamu, kamupun akan berprestasi seperti aku.” Lalu Luqman berkata, “Aku menjaga mengontrol pandanganku, mejaga lidahku, menjaga kesucian makananku, memelihara kemaluanku, berkata jujur, memenuhi janjiku, menghormati tamuku, memelihara hubungan baik dengan tetanggaku, dan meninggalkan perkara yang tidak penting. Itulah yang membuat diriku seperti yang kamu lihat.” Demikianlah Luqman dan kebijaksanaan yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya.
NASEHAT LUQMAN AL-HAKIM: PRINSIP PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM
”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman: 13)
Potret Gaya Hidup Generasi Muda Masa Kini
Sepuluh tahun tahun terakhir ini TV kita makin marak dengan acara-acara hiburan. Ada sinetron, musik, komedi, film pendek, reality show, dan bermacam-macam ajang kontes. Sungguh luar biasa kapitalis industri hiburan, mereka seolah tidak pernah puas menimbun otak dan jiwa generasi muda bangsa ini dengan budaya hedonis dan instan melalui program-program tayangannya. Tak cukup diiming-imingi kehidupan mewah dan mudah, mereka bahkan diajari juga cara cepat untuk mencapainya, yaitu: Ikut Kontes di TV! Pesona dan daya tarik dunia hiburan yang tampak begitu menggiurkan itu membuat audisi berbagai ajang kontes di TV selalu diikuti oleh puluhan ribu anak/remaja di seluruh Indonesia. Jauh lebih heboh dan ramai dibanding pendaftaran peserta tes masuk perguruan tinggi negeri.
Ironis! Begitulah wajah umat Islam Indonesia. Di satu sisi Indonesia patut bersyukur, karena ditakdirkan sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sehingga muslim Indonesia tidak perlu takut atau bersusah payah menunaikan ibadah sehari-hari. Sementara di sisi lain, sikap dan gaya hidup umat Islam Indonesia dari tahun ke tahun semakin jauh saja dari perikehidupan Islami Kelemahan internal umat yang mayoritas “miskin” ilmu agama mendapat gempuran dahsyat dari budaya luar yang “kaya” kebebasan nan menyesatkan. Inilah tantangan pendidikan generasi muda Islam.
Hidup Islami
Maka kini sudah saatnya umat Islam meletakkan kembali kepribadiannya, gaya hidupnya, pendidikannya, pemikirannya, hukum dan segala sendi kehidupannya, kepada landasan Islam. Hidup yang Islami secara keseluruhan sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 208,
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” Hidup dengan semua prinsip, tingkah laku, dan norma-norma yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Menjunjung tinggi tuntunan tersebut dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan nyata. Itulah esensi hidup Islami secara kaaffah.
Memang sangat berat, sebab setan tak akan berhenti mengajak kepada kesesatan yang menjauhkan kita dari nilai-nilai Islam. Bahkan setan telah berjanji akan menggelincirkan umat ini turun temurun, sebagaimana yang mereka janjikan di hadapan Allah SWT, Iblis berkata, “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau beri tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil….” (Q.S.Al-Israa’:62)
Berhadapan dengan tipuan-tipuan setan yang secara kasat mata tampak jauh lebih indah dan menggoda itu, umat Islam tak boleh menunggu lama untuk berbenah atau terlena. Meski berat tantangannya, tidak boleh ada kata menyerah. Bukankah Allah sudah memberikan solusi dan senjatanya? “(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. ‘Ali-Imron: 138). Sekarang terserah pada kita, mau mengambilnya sebagai tuntunan atau tidak.
Lima Prinsip Pendidikan Islami
Sebenarnya mendidik anak hidup Islami dan membentengi mereka dari kesesatan, tak sulit mencarinya dalam Al-Qur'an. Prinsip-prinsip pendidikan anak yang Islami sangat jelas disampaikan dalam kisah Luqman al-Hakim berikut ini:
1. Aqidah Yang Kuat
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. 31: 13). Bahasan yang paling awal dididikkan kepada anak adalah tentang keyakinan kepada Allah, Al-Ahad. Itulah pondasi pendidikan yang pertama dan utama ditanamkan dalam pikiran anak-anak. Sembahlah Allah saja, dan jangan menyekutukannya dengan apa atau siapa pun, dimana dan kapan pun!
2. Kesadaran akan pengawasan
Pada kesempatan berikutnya, setelah iman tertanam kuat di dada, Luqman berkata, “.Hai anakku, sesungguhnya jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. 31: 16)
Di sini anak dididik sadar akan pengawasan dan hukum Allah. Betapa kebaikan dan keburukan yang diperbuat akan selalu diketahui-Nya, dan diberi balasan yang benar-benar setimpal oleh Allah SWT.
3. Shalat, Amar ma’ruf nahi mungkar, dan sabar
Aqidah yang kokoh dan kesadaran akan pengawaan Allah perlu dibuktikan dengan perbuatan. Maka Luqman menuntun putranya kepada amal shaleh atau kebaikan yang harus dilakukan. Di ayat ke-17 Luqman menasehati putranya, “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
Luqman menghasung putranya untuk melaksanakan shalat, berda’wah dan bersabar, sebagai tanda bakti dan bukti kesetiaan hamba kepada Penciptanya.
4. Tidak sombong
Seseorang tidak akan mampu hidup sendiri di dunia ini. Ia bersama trilyunan makhluk Allah lainnya hidup bersama di jagat raya ini dan saling tergantung satu dengan lainnya. Karenanya tak ada satu makhluk pun yang patut membanggakan diri di hadapan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi pokok nasehat Luqman berikutnya, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. 31: 18).
5. Sederhana
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. 31: 19). Di bagian akhir nasehat Luqman kepada anaknya adalah hasungan untuk bertindak-tanduk dan bertutur kata yang sopan dan sederhana. Mengapa sikap tersebut demikian penting? Tidak lain karena sikap sederhana menghindarkan manusia dari iri dengki yang membawa permusuhan. Bukankah banyak permasalahan hidup yang timbul gara-gara dipicu sikap atau tutur-kata yang berlebih-lebihan dan menyakitkan?
Apa yang diajarkan Luqman al-Hakim kepada putranya tampak jauh lebih sederhana dalam ukuran kita saat ini. Tetapi dalam kesederhanaan itu terdapat makna yang dalam, yang menjadi inti kepribadian muslim. Iman, Sadar, Shalat, Amar ma'ruf Nahi mungkar, Sabar, Rendah hati, dan Sederhana. Mari kita terapkan pada diri sendiri, kita tanamkan pada jiwa anak-anak dan keluarga tercinta, dan kita sebarkan pada lingkungan sekitar. InsyaAllah negeri ini akan menjadi lebih Islami dan diberkahi Allah SWT. Wallahua'lamu bishsowwab.
(Riz) Dari berbagai sumber dan Pengajian Umum bersama Ust. Farhanudin Munir, Sabtu, 26 Juli 2008.
Potret Gaya Hidup Generasi Muda Masa Kini
Sepuluh tahun tahun terakhir ini TV kita makin marak dengan acara-acara hiburan. Ada sinetron, musik, komedi, film pendek, reality show, dan bermacam-macam ajang kontes. Sungguh luar biasa kapitalis industri hiburan, mereka seolah tidak pernah puas menimbun otak dan jiwa generasi muda bangsa ini dengan budaya hedonis dan instan melalui program-program tayangannya. Tak cukup diiming-imingi kehidupan mewah dan mudah, mereka bahkan diajari juga cara cepat untuk mencapainya, yaitu: Ikut Kontes di TV! Pesona dan daya tarik dunia hiburan yang tampak begitu menggiurkan itu membuat audisi berbagai ajang kontes di TV selalu diikuti oleh puluhan ribu anak/remaja di seluruh Indonesia. Jauh lebih heboh dan ramai dibanding pendaftaran peserta tes masuk perguruan tinggi negeri.
Ironis! Begitulah wajah umat Islam Indonesia. Di satu sisi Indonesia patut bersyukur, karena ditakdirkan sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sehingga muslim Indonesia tidak perlu takut atau bersusah payah menunaikan ibadah sehari-hari. Sementara di sisi lain, sikap dan gaya hidup umat Islam Indonesia dari tahun ke tahun semakin jauh saja dari perikehidupan Islami Kelemahan internal umat yang mayoritas “miskin” ilmu agama mendapat gempuran dahsyat dari budaya luar yang “kaya” kebebasan nan menyesatkan. Inilah tantangan pendidikan generasi muda Islam.
Hidup Islami
Maka kini sudah saatnya umat Islam meletakkan kembali kepribadiannya, gaya hidupnya, pendidikannya, pemikirannya, hukum dan segala sendi kehidupannya, kepada landasan Islam. Hidup yang Islami secara keseluruhan sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 208,
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” Hidup dengan semua prinsip, tingkah laku, dan norma-norma yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Menjunjung tinggi tuntunan tersebut dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan nyata. Itulah esensi hidup Islami secara kaaffah.
Memang sangat berat, sebab setan tak akan berhenti mengajak kepada kesesatan yang menjauhkan kita dari nilai-nilai Islam. Bahkan setan telah berjanji akan menggelincirkan umat ini turun temurun, sebagaimana yang mereka janjikan di hadapan Allah SWT, Iblis berkata, “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau beri tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil….” (Q.S.Al-Israa’:62)
Berhadapan dengan tipuan-tipuan setan yang secara kasat mata tampak jauh lebih indah dan menggoda itu, umat Islam tak boleh menunggu lama untuk berbenah atau terlena. Meski berat tantangannya, tidak boleh ada kata menyerah. Bukankah Allah sudah memberikan solusi dan senjatanya? “(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. ‘Ali-Imron: 138). Sekarang terserah pada kita, mau mengambilnya sebagai tuntunan atau tidak.
Lima Prinsip Pendidikan Islami
Sebenarnya mendidik anak hidup Islami dan membentengi mereka dari kesesatan, tak sulit mencarinya dalam Al-Qur'an. Prinsip-prinsip pendidikan anak yang Islami sangat jelas disampaikan dalam kisah Luqman al-Hakim berikut ini:
1. Aqidah Yang Kuat
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. 31: 13). Bahasan yang paling awal dididikkan kepada anak adalah tentang keyakinan kepada Allah, Al-Ahad. Itulah pondasi pendidikan yang pertama dan utama ditanamkan dalam pikiran anak-anak. Sembahlah Allah saja, dan jangan menyekutukannya dengan apa atau siapa pun, dimana dan kapan pun!
2. Kesadaran akan pengawasan
Pada kesempatan berikutnya, setelah iman tertanam kuat di dada, Luqman berkata, “.Hai anakku, sesungguhnya jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. 31: 16)
Di sini anak dididik sadar akan pengawasan dan hukum Allah. Betapa kebaikan dan keburukan yang diperbuat akan selalu diketahui-Nya, dan diberi balasan yang benar-benar setimpal oleh Allah SWT.
3. Shalat, Amar ma’ruf nahi mungkar, dan sabar
Aqidah yang kokoh dan kesadaran akan pengawaan Allah perlu dibuktikan dengan perbuatan. Maka Luqman menuntun putranya kepada amal shaleh atau kebaikan yang harus dilakukan. Di ayat ke-17 Luqman menasehati putranya, “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”
Luqman menghasung putranya untuk melaksanakan shalat, berda’wah dan bersabar, sebagai tanda bakti dan bukti kesetiaan hamba kepada Penciptanya.
4. Tidak sombong
Seseorang tidak akan mampu hidup sendiri di dunia ini. Ia bersama trilyunan makhluk Allah lainnya hidup bersama di jagat raya ini dan saling tergantung satu dengan lainnya. Karenanya tak ada satu makhluk pun yang patut membanggakan diri di hadapan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi pokok nasehat Luqman berikutnya, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. 31: 18).
5. Sederhana
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. 31: 19). Di bagian akhir nasehat Luqman kepada anaknya adalah hasungan untuk bertindak-tanduk dan bertutur kata yang sopan dan sederhana. Mengapa sikap tersebut demikian penting? Tidak lain karena sikap sederhana menghindarkan manusia dari iri dengki yang membawa permusuhan. Bukankah banyak permasalahan hidup yang timbul gara-gara dipicu sikap atau tutur-kata yang berlebih-lebihan dan menyakitkan?
Apa yang diajarkan Luqman al-Hakim kepada putranya tampak jauh lebih sederhana dalam ukuran kita saat ini. Tetapi dalam kesederhanaan itu terdapat makna yang dalam, yang menjadi inti kepribadian muslim. Iman, Sadar, Shalat, Amar ma'ruf Nahi mungkar, Sabar, Rendah hati, dan Sederhana. Mari kita terapkan pada diri sendiri, kita tanamkan pada jiwa anak-anak dan keluarga tercinta, dan kita sebarkan pada lingkungan sekitar. InsyaAllah negeri ini akan menjadi lebih Islami dan diberkahi Allah SWT. Wallahua'lamu bishsowwab.
(Riz) Dari berbagai sumber dan Pengajian Umum bersama Ust. Farhanudin Munir, Sabtu, 26 Juli 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)
