Film

Selasa, 19 Agustus 2008

DO’A KU

Ya .........ALLAH

Hari-hariku terasa hampa

Sujudku, ibadahku

Dan semua amalanku

Belumlah sempurna

Mataku belum suci dalam melihat

Telingaku belum suci dalam mendengar

Tanganku belum suci dalam bekerja

Mulutku belum suci dalambertutur kata

Kakiku belum suci untuk melangkah

Hatiku belum suci dalam berniat

Ya .........ALLAH

Segalanya Engkau berikan

Aku hanya bisa bersyukur

Dan selalu bersyukur

Itu saja

Tak lebih dari itu

Maka,................

Sucikanlah mataku

Sucikanlah telingaku

Sucikanlah tanganku

Sucikanlah mulutku

Sucikanlah kakiku

Sucikanlah hatiku dan,

Semua yang ada padaku

Sucikanlah................

Agar aku selalu berada di jalanMU

(Yun)

Pengakuan Hamba

Ya Allah,…

Hamba sadar betapa hati ini sering mendua,..

Hamba akui cinta ini tak lagi utuh untukMu,…

Ibadah hamba tak lagi ikhlas karenaMu,..

Sungguh,…Hamba telah mendustakanMu,…

Ya Allah,…

Hamba memang terlalu,..

Hamba ucapkan Laa ilah haillallah,..

Namun hamba masih menuhankan manusia,..

Hamba takut dipecat, takut miskin,

takut dihina,…

Cinta dunia, cinta harta, cinta manusia, …

Maka jadilah hamba, makhluk hina,

yang diperbudak dunia,…

Kami sibuk.......

mengejar kesenangan yang fana

Hingga Kau bukan lagi tujuan hamba,….

Ya Allah,….

Hati ini dalam genggamanMu

Kembalikan jiwa ini kepada fitrahnya

Agar hati dan amalan kami

tak lagi mendua

Kami ingin hidup dan mati

hanya untukMu semata,..(Lva)

Dampak Teknologi Bagi Anak dan Remaja

Jika kita mengamati perkembangan teknologi pada saat ini mungkin membuat para orang tua menggelengkan kepala, khawatir akan pengaruh kecanggihan dari teknologi tersebut. Betapa tidak, semua fasilitas mulai dari handphone sampai internet dapat kita nikmati dengan mudah, kapan dan dimanapun kita berada. Tidak perlu mengeluarkan kocek yang banyak untuk menikmati komputer misalnya, karena di seluruh pelosok pun sudah ada persewaan komputer, tidak harus membeli. Seakan kita dimanjakan oleh kemajuan teknologi. Dengan beberapa ribu saja kita sudah bisa melihat perkembangan dunia, misalnya saja peristiwa-peristiwa penting dan tempat-tempat bersejarah. Bahkan kita juga bisa menjalin persahabatan dengan orang lain melalui media tersebut. Sungguh sangat mengasyikkan!

Yang menjadi persoalan adalah dampak perkembangan teknologi tersebut terhadap anak-anak dan remaja kita. Banyak kalangan yang merasa miris dengan akibat yang ditimbulkannya,. Lihat saja anak-anak kecil sudah pandai mengoperasikan HP, anak TK pun sudah bisa pencet sana pencet sini. Kadang kita tidak menyadari banyak menu yang disajikan dalam telepon selular tersebut, seperti game,musik,gambar. Yang paling mngerikan adalah anak sekarang sudah bisa men-down load gambar-gambar yang mungkin bagi kita tidak sopan.

Belum berhenti sampai di sini, yang sungguh meresahkan adalah tayangan TV yang semakin hari semakin jauh dari pendidikan. Karena sebagian besar masyarakat bila memiliki kotak ajaib tersebut menjadi lupa waktu, sambung-menyambung. Padahal kalau dipikir kadang ceritanya tidak masuk akal, berputar-putar yang membuat orang semakin penasaran. Ada juga yang menjual mimpi, yang membuat banyak remaja berkhayal terlalu jauh, bermimpi menjadi cinderella. Ironisnya acara tersebut ditayangkan saat jam belajar anak-anak sekolah. Lebih parah lagi setiap jam berganti judul dan pemeran sehingga semakin sulit beranjak dari televisi. Akibatnya banyak anak yang meniru gaya selebritis tersebut baik dalam hal perilaku, pakaian dan haya hidup.

Satu lagi kotak ajaib yang membuat anak-anak dan para remaja terlena yaitu komputer. Ternyata kalau kita amati, banyak dari mereka yang mempergunakan alat tersebut hanya untuk bermain game daripada belajar membuat program atau mengetik. Yang mungkin lagi digandrungi anak-anak adalah game on line. Bermain game dengan cara mengakses di internet. Perkembangannya sungguh luar biasa. Belum lagi kalau membuka situs-situs orang dewasa. Sungguh sangat memprihatinkan. Beruntung pemerintah cepat tanggap dan telah membredel situs-situs tersebut.

Sebetulnya gambaran di atas adalah perkembangan teknologi dari sudut pandang negatip. Tidak dipungkiri sisi positipnya juga lebih banyak. Tidak semua anak atau pun remaja terseret ke arah yang tidak kita harapkan. Banyak kok anak-anak yang berprestasi dengan adanya sarana canggih tersebut yang perlu kita waspadai adalah bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Dan bagaimana solusi yang sehat dan wajar. Peran orang tua sangatlah penting, disamping guru dan pemerintah tentunya semua elemen harus bekerja sama dalam hal ini, karena anak-anak adalah calon generasi penerus bangsa, untuk itulah perlu adanya komunikasi yang kontinyu antara orang tua dan anak.

Barangkali semacam kontrol tanpa adanya penekanan sehingga anak-anak tidak merasa diintervensi. Juga tidak berlebihan kalau menyarankan orang tua untuk tidak menyalakan TV pada jam-jam belajar. Walau bagaimanapun orangtua adalah suri tauladan bagi anak-anak. Kadang justru orang tua yang ingin menyaksikan siaran saat anak-anak sedang serius belajar. Jika mempunyai kegemaran membaca maka sangat membantu mengembangkan wawasan. Apalagi sekarang banyak buku bersifat religi yang beredar di toko-toko buku. Di dalam buku tersebut diajarkan bagaimana kita bergaul atau berperilaku. Disamping bersifat religi ada juga yang bersifat memberi semangat dan membangun motivasi yang benar untuk belajar seperti karya Andrea Hirata. Kehadiran penulis seperti beliau sangat ditunggu-tunggu. Tidak hanya oleh anak-anak dan remaja tetapi oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Ada solusi yang tepat menghadapi ketimpangan-ketimpangan yang ada saat ini. Semoga pemerintah juga turut memikirkan hal-hal yang sangat kontroversi ini. Misalnya harus ada pengaturan mengenai acara TV, materi ataupun jam tayang. Harus ada penyajian yang bersifat mendidik. Karena kalau tidak, bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita. Memberi nasehat, menegur, rasanya belumlah cukup. Harus ada campur tangan pemerintah yang tegas. Okey, kita tunggu saja !!!(Yun)

MERAIH KEBAIKAN HIDUP

Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a, ”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Al-Baqarah:201)

Dalam pandangan Barat yang sekuler, hidup di dunia adalah segalanya. Mereka tak segan mengerahkan seluruh daya dan potensi yang ada untuk meraih kenikmatan hidup di dunia. Mereka berlomba-lomba membuat kehidupan di dunia ini menjadi lebih nyaman dan modern. Hingga negara-negara miskin dan berkembang yang dikenal dengan negara dunia ketiga menjadikan kemajuan atau ke-modern-an itu sebagai ukuran kebaikan hidup.

Indonesia pun tak ketinggalan. Banyak orang berlomba-lomba mencari kekayaan, sibuk bekerja siang dan malam demi meraih kenyamanan hidup modern itu. Mobil, rumah, perabot, alat komunikasi, pakaian, dan makanan. Mereka selalu berusaha mengikuti trend gaya hidup modern di Barat. Umumnya masyarakat pun menyebut orang-orang yang mampu hidup seperti itu dengan kalimat ini, “Enak ya, hidupnya....”

Apakah kebaikan hidup yang demikian itu yang Allah maksudkan untuk dituju manusia, sebagaimana do’a yang tersebut dalam QS Al Baqarah : 201 di atas?

Dalam Al-Qur’an Allah SWT menggambarkan baiknya hidup di dunia sebagai berikut:

1. Kehidupan Yang Berkah

Islam memandang kehidupan yang baik adalah kehidupan yang penuh berkah dari Allah SWT. Berkah itu berarti mencukupi. Tidak kekurangan dan tidak pula berlebih-lebihan. Sesuatu yang sedikit bila diberi berkah akan berkembang menjadi banyak sehingga mencukupi. Dan bila keberkahan ada pada sesuatu yang banyak maka sesuatu itu akan mendatangkan manfaat lebih banyak lagi.

Dalam surat Al-A’raf ayat 96, Allah SWT mengajarkan manusia untuk mencapai keberkahan hidup itu dengan beriman dan bertaqwa hanya kepada-Nya. ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

2. Kehidupan Dalam Naungan Hidayah

Lebih jauh lagi, Islam memandang kehidupan yang baik adalah kehidupan yang sesuai petunjuk (hidayah). Ketika Allah memerintahkan Adam dan Hawa turun dari surga, Dia telah memperingatkan manusia tentang petunjuk hidup tersebut, ”Allah berfirman, ”Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan susah” (Q.S. Thaha:123). Maka orang yang mengikuti petunjuk Allah, yaitu Qur’an dan Rasul-Nya, Allah jamin hidupnya akan baik dan bahagia karena tidak tersesat dan tidak susah. Ini adalah janji Allah. Janji Allah pasti benar dan pasti ditepati.

Tetapi mengapa tidak sedikit orang beriman yang hidup dalam kemiskinan? Dan sebaliknya mengapa banyak orang yang jauh dari tuntunan agama tetapi hidup bergelimang harta, bahkan berkedudukan tinggi di masyarakat?

Demikian itu disebabkan pandangan kebanyakan manusia yang mengikuti hawa nafsu saja, sebagaimana pandangan orang-orang yang menolak (kafir). Mereka menjadikan tercukupinya kebutuhan akan materi dan berbangga-bangga sebagai ukuran kebahagiaan dan kebaikan hidup di dunia. Syetan menghiaskan pada mereka pandangan itu hingga mereka menganggap itulah kebaikan. Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat An-Nahl ayat 63, ”Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syetan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syetan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.”

Kebaikan Hidup di Dunia

Padahal hakikat kebaikan hidup di dunia sejatinya sangat luas. Sebab manusia tidak melulu memperoleh kebaikan hidup berupa harta benda.

Kebaikan-kebaikan hidup di dunia itu Allah anugerahkan melalui:

1. Al-’Afiyat, yaitu kesehatan jasmani dan ruhani.

2. Al-Kafaf, yaitu rasa cukup terhadap setiap pemberian/rezeki dari Allah SWT

3. Al-aulad / al-abror, yaitu anak-anak yang baik dan berbakti

4. Al-mar’a ash-shalihah, yaitu pasangan hidup yang shalih/shalihah yang akan membuat keluarga menjadi sakinah (tenang)

5. Al-maal ash-shaalih atau harta yang shalih, yaitu harta yang dimanfaatkan untuk kebaikan dan kebenaran. Bukan harta yang menjerumuskan kepada maksiat.

6. Al-‘ilmu al-ma’rifah yaitu ilmu pengetahuan yang baik dan bermanfaat bagi umat

7. At-Tho’at wal ’ibadah, yaitu keta’atan dan kemampuan beribadah kepada Allah SWT.

Itulah bentuk kebaikan hidup yang diterima oleh orang-orang beriman di dunia ini. Bukankah tak jarang kita dapati seorang yang kurang mampu secara ekonomi tetapi dikaruniai putra/putri yang pandai dan berbakti pada orang tuanya? Dan bukankah masih ada guru yang setia memberikan ilmunya di sekolah-sekolah ”pelosok” meski gajinya sangat tidak memadai?

Kehidupan Yang Sempit di Dunia

Sebaliknya, kita juga sering menyaksikan betapa ”kisruh”nya kehidupan orang-orang yang kaya atau berpangkat. Contoh: kehidupan rumah tangga para artis yang jauh dari ketenangan, atau cucu presiden yang terjerat kasus narkoba, atau bupati yang ketahuan korupsi hingga harus mendekam di penjara, sampai pejabat negara atau wakil rakyat yang berzina. Mereka adalah orang-orang yang tercukupi kebutuhan materinya tetapi tidak dikaruniai kebaikan hidup di dunia, mereka melupakan peringatan Allah sehingga kekayaannya tidak berkah. Maka ketika sampai pada puncak kesenangannya Alah mengambilnya seketika bahkan sampai ke akar-akarnya. Allah berfirman ”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”(QS Al An’am: 44).

Kondisi yang lebih menyedihkan adalah orang-orang yang diberi ujian kemiskinan di dunia oleh Allah SWT dan mereka dalam keadaan tidak beriman. Penghidupan mereka sudah sempit dan mereka pun tidak mau menerima kesempitan itu disebabkan mereka tidak beriman. Allah menggambarkan keadaan mereka itu sebagai sebagai berikut, ”Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Thaha:124)

Kesempatan Memilih

Maka Allah memberi kesempatan kepada setiap manusia untuk memilih model kehidupan yang diinginkannya, berikut konsekuensinya. Allah berfirman dalam Qur’an surat Al-Israa’ ayat 18-19, ”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki dan Kami tetapkan baginya Neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan terhina dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.”

Beruntunglah orang-orang yang berusaha sungguh-sungguh menjalani kehidupan sesuai syari’at Islam dan memilih akhirat sebagai tujuan hidupnya. Rasulullah SAW bersabda, ”Keberuntungan bagi orang yang diberi petunjuk kepada Islam sedang hidupnya dengan rezeki yang sekedar mencukupi kebutuhannya dan dia puas terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). Dan sungguh merugi orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan menjadikan kenikmatan hidup di dunia ini sebagai tujuan. Mereka hanya akan mendapatkan sebagian kebaikan dunia dan itupun kehidupan yang sempit.

Kebahagiaan bukan diukur oleh kuantitas tetapi kualitas. Kaya dan miskin adalah kehendak Allah SWT. Penilaian Allah adalah pada kesungguhan ikhtiar yang kita lakukan. Kesungguhan ketika meninggalkan maksiat dan kesungguhan ketika menjalani ibadah akan menentukan tingkat kebahagiaan yang kita peroleh di dunia dan di akhirat.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT, mudah-mudahan kita termasuk orang yang senantiasa berusaha mengarahkan kehidupan di dunia ini untuk kebahagiaan hidup di akhirat dan tidak silau oleh gemerlapnya dunia. Dan tetaplah istiqomah di jalan kebenaran yaitu Dinul Islam, sambil tak putus-putus berdo’a:

Rabbanaa ’aatinaa fid-dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa ’adzaabannar”. Wallahua’lamubishshowab.(Riz )
Dari Kajian tafsir Pengajian Sakinah SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo asuhan Ust. M. Zaini.

Berdakwah Yuk…….

Dunia ini semakin tua, tapi juga semakin gila. Lihatlah kebenaran tak lagi dapat dibedakan dengan kemaksiatan, halal dan haram tak lagi jelas bedanya, putih dan hitam tak lagi nyata. Lalu apa peranan kita sebagai muslim? Masihkah kita bisa terpejam lelap sementara disekitar kita maksiat terang-terangan, nilai-nilai Islam dikaburkan, sunnah-sunnah rasul dilecehkan? Oh, sahabat,.. Bila masih ada sedikit iman dihati ini tentu kita akan bertanya, apa yang dapat kita perbuat untuk agama kita?

Abu Said Al khudry RA meriwayatkan ,”Saya mendengar rasullulah saw bersabda: “Barangsiapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, bila ia tidak mampu hendaklah merubah dengan lisannya. Bila ia tidak mampu hendaklah merubah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman (Hr Muslim). Dari hadis ini jelas setiap individu muslim mempunyai tanggungjawab terhadap kemurnian agamanya. Masihkan kita cuek atau masa bodoh bila agama kita dihina, ajaran Islam dilecehkan. Padahal rasul mengatakan bila kita mampu mencegah maksiat lakukan dengan tangan kita, artinya realisasikan dengan perbuatan. Sebagai pemimpin misalnya, bila melihat kemungkaran segera hentikan dengan langkah nyata. Namun bila kita tidak mampu untuk memberantas kemungkaran, lakukan dengan lisan. Sampaikan kebenaran sakalipun pahit, karena akan banyak resiko yang kita hadapi seperti ejekan, sok alim, bau syurga, sok suci dan sebagainya. Bila menyampaikan kebenaran juga belum mampu, rasul mengatakan hendaklah merubah dengan hatinya dan ini adalah manusia yang mempunyai iman yang sangat lemah. Sekarang mari kita koreksi diri termasuk golongan manakah kita?

Bila kita termasuk golongan pertama, sungguh beruntung karena kita mampu mencegah kemaksiatan dengan langkah nyata, namun bila masuk golongan kedua yaitu kita hanya mampu menasehati dan berdakwah dengan lisan, juga baik sedangkan golongan ketiga adalah orang yang pasif terhadap agamanya, namun hatinya masih bisa menolak kemaksiatan. Masih lumayan walaupun disebut “selemah-lemahnaya iman”. Namun yang paling parah adalah golongan orang-orang yang mengaku muslim, tapi bila melihat kemaksiatan hati kecilnya tak tersentuh untuk mencegah, lebih parah lagi menyetujui kemaksiatan itu, dengan dalih hak azazi, kesetaraan gender, kebebasan berekspresi, tuntutan profesi dan segudang alasan lainnya

Coba kita lihat tayangan televisi, laki-laki berpakaian wanita, lalu bergaya seperti wanita menjadi trend. Bahkan menjadi lawakan yang sangat digemari. Seorang artis yang menggumbar aurat dan bergoyang-goyang erotis Bila ditanya mereka serempak menjawab,”Itu cuma acting atau profesionalisme,” Betul bila bicara profesional pasti UUD alias ujung-ujungnya duit. Bukankah Islam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu juga sebaliknya. Dalam Al Quran surat An-nur ayat 31, Allah dengan jelas menyuruh wanita menutup auratnya, bukan malah mengumbar aurat di depan umum. sungguh maksiat yang benar-benar nyata. Namun, apakah kita termasuk orang yang menolak kemaksiatan itu atau malah sebaliknya menikmati tontonan itu?

Sahabat, ironis memang, negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam ini, benar-benar jauh dari nilai-nilai islami. Lalu apakah hati kita tidak tersentuh untuk menegakkan nilai-nilai luhur Islam?, ingat Allah Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah ada diantara kamu sekalian segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikkan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekah orang-orang yang beruntung,” (Ali Imran ayat 104). Sahabat, dari ayat ini, jika ingin masuk golongan orang-orang beruntung, mari kita sebarkan nilai-nilai Islam di bumi ini, saling menasehati dengan penuh kesabaran, sampaikanlah walau satu ayat, karena sejatinya tugas dakwah bukan hanya kewajiban ulama, tapi siapa saja yang mengaku hamba Allah. Maka tunggu apa lagi sebelum ajal menjemput, sahabat, yuk kita berdakwah,.! (Lva)

Etika Komunikasi dalam Islam

Allah Ta’ala berfirman: “Dan berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu,….”

(Ali Imran ayat 159)

Ayat ini sangat luas dan dalam maknanya, karena itu ketika menyelesaikan studi di fakultas ilmu komunikasi, ayat inilah yang mengilhami skripsi saya. Dari firman Allah ini, betapa besar dampaknya komunikasi dalam tatanan hidup manusia sebagai mahluk sosial. Menurut pakar komunikasi 70% dalam 24 jam, waktu manusia diisi dengan komunikasi. Begitu banyaknya waktu yang kita habiskan dalam komunikasi. Salah komunikasi atau misscommunication akan mengakibatkan salah persepsi, atau dalam bahasa gaulnya “nggak nyambung”.

Faktor yang paling penting dalam berdakwah ialah komunikasi. maka sebagai muslim kita harus tahu etika berkomunikasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Menurut saya, rasullullah SAW adalah komunikator yang hebat, setiap pesan yang beliau sampaikan pasti berkesan dihati para sahabat, bahkan dihati kaum kafir yang memusuhinya.

Tiada agama yang paling sempurna kecuali Islam, siapapun apakah ia muslim atau kafir bila saja mau menggunakan akal untuk berpikir, pasti akan sampai pada kesimpulan yang sama. Bayangkan, Islam tidak hanya mengatur kehidupan akhirat, duniawi, teknologi, bahkan sampai hal-hal kecil pun seperti tata cara mandi, berpakaian, tidur diatur Islam, melalui sunnah rasullulah saw, uswatunhasanah bagi kita. Islam juga banyak mengatur tata cara berkomunikasi. Sungguh beruntung kita ditakdirkan sebagai seorang muslim, karena hidup kita mempunyai tuntunan yang lengkap dan menyeluruh. Lengkap karena kita memiliki Al Quran dan hadits sebagai sumber hukum yang paling otentik dan terpercaya.

Rasululah SAW mengatakan ,”Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain,” atau ,”Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang sangat baik dengan tetangganya,” dan banyak lagi hadits-hadits yang menyuruh kita untuk mencintai saudara kita sesama muslim seperti kita mencintai diri kita sendiri. Semua ini membuktikan betapa kita harus bisa berkomunikasi dengan nilai-nilai yang islami, hingga lisan kita tidak sampai menyakiti orang lain, bahkan sebaliknya setiap kata yang diucapkan dapat menyejukkan hati.

Allah berfirman,” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah adalah yang paling takwa diantara kamu sekalian”. (Al Hujarat, : 13) Dari ayat ini, Allah menyuruh kita untuk saling mengenal, mestipun berbeda suku, berbeda bangsa, berbeda budaya, berbeda warna kulit, sebagai manusia kita harus menjalin komunikasi yang baik. Selanjutnya Allah juga menegaskan yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang paling kaya, paling cantik, paling pintar, paling popular dsbnya, namun yang paling mulia adalah manusia yang paling bertakwa kepada Allah SWT.

Setiap manusia mempunyai karakter, sifat dan kepribadian yang berbeda. Meski anak yang lahir kembar identik pun pasti memiliki sifat dan karakter yang tidak sama. Untuk itu Islam mengatur tata cara bergaul yang benar, agar seseorang dapat bersinergi dengan orang lain meski mempunyai kepribadian , sikap dan watak yang berbeda. Allah berfirman,” Dan hamba-hamba Tuhan yang maha penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al Furqon: 63)

Rendah hati (tawadhu) dan mengucapkan kata-kata yang baik (Qaulan Salaamah). Rendah hati adalah sifat yang sangat mulia, orang yang tawadhu akan tercermin dari sifat dan tingkah lakunya. Dalam pergaulan orang yang tawadhu pasti disenangi, bila berkata sewajarnya, kepada yang lebih tua menghormati, namun kepada yang lebih muda menyayangi. Orang seperti ini bila ditakdirkan jadi pemimpin, ia akan tampil sebagai pemimpin yang amanah.

Bila kita baca riwayat hidup rasullah, manusia yang dijamin masuk surga itu, sungguh rendah hati terhadap keluarga, dan sahabat-sahabatnya. Beliau bersabda,” Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepadaku, yaitu kamu sekalian hendaklah bersikap tawadhu sehingga tidak ada seseorang bersikap sombong kepada yang lain, dan tidak ada seseorang menganiaya yang lain,” (Hr Muslim). Dan dalam riwayat lain Anas RA berkata,” Bila ada budak di Madinah memegang tangan nabi SAW, maka beliau pergi mengikuti kemana budak itu menghendaki”. (Hr Bukhari) Sungguh, sikap tawadhu benar-benar dicontohkan langsung oleh rasul, yang tidak membedakan status sosial kendati beliau adalah manusia yang paling mulia di dunia dan akhirat namun tetap menghargai seorang budak .

Sebagai Muslim yang baik harus selalu menjaga setiap kata yang keluar dari mulutnya. Karena setiap lafaz yang kita ucapkan akan dipertanggungjawabkan diakhirat nanti. Dalam pergaulan Qaulan Salaamah terdiri dari beberapa aspek antara lain:

Pertama : Qaulan Kariiman ( mulia) sebagai muslim kita harus berkata dengan kata-kata yang mulia, hindarilah kata-kata yang hina, seperti mengejek, mengolok-ngolok hingga menyakiti perasaan orang lain. Pepatah mengatakan,”Memang lidah tidak bertulang, tak terbatas kata-kata” kendati lidah tak bertulang, namun lidah bisa lebih tajam dari sembilu. Banyak orang bisa sembuh bila dilukai dengan pedang, namun bila dilukai dengan lidah, sakitnya akan terbawa sampai mati. Hati-hati dengan perkataan, bila ingin bergurau tetap jaga lisan dari kata-kata yang menyakiti, bergurau dan bergaul harus tetap dengan kata-kata yang mulia.

Kedua : Qaulan ma’rufan ( baik) “Berkatalah yang baik atau diam” itu pesan rasullulah kepada ummatnya. Sebagai muslim yang beriman lisan harus terjaga dari perkataan yang sia-sia, apapun yang diucapkannya harus selalu mengandung nasehat, menyejukkan hati bagi orang yang mendengarnya. Jangan biarkan lisan ini mencari-cari kejelekan orang lain. Hindari kata-kata yang hanya bisa mengkritik atau mencari kesalahan orang lain, memfitnah, menghasut. Sungguh, perbuatan yang sangat hina, hingga Allah berfirman dalam surat Al Hujarat ayat 12, seumpama orang yang memakan bangkai temannya sendiri. Sungguh sangat menjijikkan.

Ketiga : Qaulan Syadidan ( lurus dan benar). Seorang muslim berkata harus benar, jujur jangan berdusta. Karena sekali kita berkata dusta, selanjutnya kita akan berdusta untuk menutupi dusta kita yang pertama, begitu seterusnya, sehingga bibir kita pun selalu berbohong tanpa merasa berdosa. Siapapun tak ingin dibohongi, seorang istri akan sangat sakit hatinya bila ketahuan suaminya berbohong, begitu juga sebaliknya. Rakyat pun akan murka bila dibohongi pemimpinnya. Juga tidak kalah penting dalam menyampaikan kebenaran, adalah keberanian untuk bicara tegas, jangan ragu dan takut, apalagi jelas dasar hukumnya Al Quran dan hadits. “Katakanlah kebenaran itu, meskipun sangat menyakitkan,” pesan Rasullulah ini, sejatinya mrnguatkan kita dalam menghadapi resiko yang apa pun yang akan kita hadapi dalam berdakwah.

Keempat : Qaulan Balighan (tepat) sebagai orang yang bijak bila berdakwah kita harus melihat stuasi dan kondisi yang tepat dan menyampaikan dengan kata-kata yang tepat. Bila bicara dengan anak-anak kita harus berkata sesuai dengan pikiran mereka, bila dengan remaja kita harus mengerti dunia mereka. Jangan kita berdakwah tentang teknologi nuklir dihadapan jamaah yang berusia lanjut tentu sangat tidak tepat sasaran, malah membuat mereka semakin bingung..

Kelima : Qaulan Layyinan ( lemah lembut), maksudnya tidak mengeraskan suara, seperti membentak, meninggikan suara. Siapapun tidak suka bila berbicara dengan orang-orang yang kasar. Rasullulah selalu bertuturkata dengan lemah lembut, hingga setiap kata yang beliau ucapkan sangat menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Seperti ayat pembuka diatas Allah melarang bersikap keras dan kasar dalam berdakwah, karena kekerasan akan mengakibatkan dakwah tidak akan berhasil malah ummat akan menjauh. Dalam berdoa pun Allah memerintahkan agar kita memohon dengan lemahlembut, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lemahlembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” (Al A’raaf ayat 55)

Demikian Allah mengajarkan kepada kita, dalam menjalin komunikasi, khususnya dengan saudara kita sesama muslim. Yakinlah bila tuntunan ini kita praktekkan dalam kehidupan baik di dalam rumahtangga, maupun di masyarakat. Dimana pun kita berada insyaAllah, semuanya akan terasa indah. Karena muslim yang beriman keberadaannya akan selalu disenangi, kata-katanya menyejukkan hati siapapun yang mendengarnya. Mampukah kita? Yuk, mulai sekarang, saya, anda atau siapapun mari kita belajar untuk menjadi komunikator yang handal dengan cara berkata yang mulia, baik, benar, tepat dan lemah lembut. Semoga dengan ini Allah mengangkat derajat kita menjadi mujahid-mujahid yang menegakan kemuliaan Islam, melalui lisan kita.Wallahu’alam bishshawab. (Lva) Dari tulisan Khalifatur dan materi Kajian Tafsir Qur’an Pengajian Sakinah.

Hadapi Ujian dengan Senyuman

Tawa dan tangis, senyum dan airmata, suka dan duka adalah melodi kehidupan. Tanpa adanya irama kehidupan itu, hidup ini akan terasa hambar. Maka Allah pun mengisi kehidupan manusia dengan segala kenikmatan, kebahagiaan sekaligus kesedihan. Ketika kita merasa bahagia, janganlah kita terlena, karena jika suatu saat nanti Allah mencabut kebahagiaan itu kita tidak begitu nelangsa, begitu juga bila kita ditimpa suatu musibah, janganlah kita terlalu hanyut dalam kesedihan, namun carilah hikmah dibalik setiap kejadian.

Menjadi muslim yang beriman, bukanlah seperti membalik telapak tangan. Sungguh, Allah akan menguji ‘cinta’ hambaNya. Apakah ia benar-benar beriman dari hati atau hanya iman di bibir saja. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,”Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?” (Qs Al Ankabut : 2). Dari ayat ini Allah seolah-olah menantang kita, jika kita telah mengaku beriman, siapkah kita menerima cobaan?, kemudian Allah melanjutkan firmanNya, “Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta,”

(Qs Al Ankabut : 3)

Suatu ketika sahabat saya bercerita bahwa ia ditipu rekannya dalam berbisnis, hingga uang milyaran hilang dibawa kabur. Ia sempat down, dan putus asa , bahkan sempat berpikir untuk bunuh diri. Namun setelah banyak mendengar tausyiah dari ulama, secara perlahan ia berusaha untuk mengikhlaskan dan menerima dengan tabah. Dampaknya sungguh luar biasa, teman saya ini malah semakin sholeh. Jika dulu dia sering ke diskotik, shalat seingatnya saja, belum lagi gaya hidup yang glamour. Namun kini ia berubah jauh lebih taat, tahajud tak pernah ia tinggalkan, shalat dhuha, dan rumahnya pun kini dihiasi dengan kajian-kajian Al Quran. Kemudian ia merasakan hidupnya kini jauh lebih bermakna. Saya katakan padanya, “Ini bukan musibah, justru ini suatu bukti kasih sayangNya, karena uang milyaran tiada nilainya bila dibandingkan hidayah yang Allah berikan. Bukankah rasulullah bersabda, jika jari telunjuk kita benamkan di samudra yang luas, lalu air yang menempel di jari diibaratkan dunia dengan segala kenikmatannya, sedangkan sisa air samudra adalah kehidupan akhirat yang kita temui nanti. Jadi mengapa kita mesti bersedih kehilangan materi, jika dengan ujian itu Allah mengangkat derajat kita menjadi orang yang bertakwa. Allah sedang “menegur” sahabat saya,agar dia tidak terlena hingga melupakan kewajibannya kepada Allah. Subhanallah, semoga sahabat saya itu tetap istiqomah dalam ketaatannya.

Musibah, bila disikapi dengan pikiran jernih dan baik sangka kepada Allah, Insya Allah kita akan melihat hikmahNya. Hanya iblislah yang selalu membisikkan dihati, hingga kita putus asa terhadap nikmat yang Allah berikan. Celakanya lagi bila tertimpa musibah, kita selalu merasa paling menderita, paling sengsara, sehingga tak jarang kita bertanya,”Apa dosaku ya Allah,?” begitu pede-nya kita bertanya seperti itu kepada Allah.

Bila hati kita jernih menghadapi ujian dari Allah, akan timbul rasa optimis bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, setiap kesulitan pasti ada kemudahan.. Tapi bila ujian hidup disikapi dengan hati yang kotor, pikiran yang kerdil dan lebih parah lagi buruk sangka kepada Allah, dunia ini akan terasa sempit, kemudian timbul rasa putus asa terhadap pertolongan Allah. Bukankah Allah itu sesuai dengan pransangka hambaNya?

Bila hidup terasa semakin sulit, bila hati terluka, bila semua orang berpaling dari kita, bila cobaan hidup terasa semakin menghimpit. Kita harus yakin Allah tempat kita mengadu. Allah senantiasa mendengar curahan hati hambaNya, dan sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar. Pertolongan Allah sangat dekat, dekat sekali. Dia mendengar rintihan hambaNya, Dia tahu derita hambaNya, Dia melihat perjuangan hambaNya. Maka masihkah kita merasa sendiri? Hadapilah ujian dengan senyuman, Karena dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. (Lva)

Ada Apa Dibalik Musibah?

Allah SWT berfirman “Sungguh kami benar-benar akan menguji kamu sekalian, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjuang dan orang-orang yang sabar diantara kamu sekalian” (QS Muhammad: 31)

Suatu ketika seorang teman berkata, “Hidup ini membingungkan, kita di jalan yang benar, masih saja difitnah,..,”keluh teman saya yang aktifis dakwah itu. Kemudian sahabat yang lain juga mengadu,” Kok aneh ya, kita sudah berusaha taat tapi banyak sekali cobaan, namun mengapa orang-orang yang jelas-jelas berbuat maksiat hidupnya malah enak, dimana sih letak keadilan Tuhan,..?” lalu sahabat yang lain juga berkomentar,” Saya sudah berusaha menjadi istri yang taat pada suami, tapi mengapa suami tak pernah menghargai..?,” Kemudian yang paling tragis lagi nasib saudara-saudara saya korban lumpur lapindo, yang sampai detik ini belum jelas ganti rugi yang dijanjikan kepada mereka. Semoga Allah memberi kesabaran kepada mereka. Amin.

Ketika saya berusia 17 tahun, ibu menghadap Illahi. Tak terperikan betapa hancurnya hati ini, bagi saya ibu adalah orang yang paling saya cintai, karena hanya ibu yang tulus mencintai saya. Saya sempat “protes” kepada Allah “mengapa?” Dia begitu cepat memisahkan saya dengan ibu, saya iri bila melihat teman-teman yang masih memiliki ibu. Dampaknya Saya jadi malas shalat dan membaca Al Quran, saya lebih suka melamun di makam ibu. Untungnya, saya cepat sadar, pesan ibu yang selalu saya ingat ,” Nak, bersabarlah dalam menghadapi kesulitan hidup dan jangan pernah tinggalkan shalat, agar Allah tidak berpaling darimu,” Nasehat ibu itu yang membuat saya kuat sampai sekarang.

“Sabar dan shalat” sungguh sesuai dengan firman Allah. “Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Dan itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yaitu mereka yang yakin , bahwa mereka akan menemui TuhanNya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya”(QS Al Baqarah: 45-46). Dari ayat ini Allah mengajak hambaNya, bila menghadapi ujian baik dalam dakwah, berumahtangga, pekerjaan, bersosialisasi, sakit bahkan musibah kematian dan dalam semua sisi kehidupan tetaplah bersabar dan shalat untuk menggapai pertolongan Allah SWT.

Memang tidaklah mudah untuk bersabar, selalu kita dengar,”Sabar itu ada batasnya,” atau “Semut saja kalau diinjak menggigit,” dan banyak lagi kata-kata yang keluar sebagai luapan nafsu amarah kita. Ketika dihimpit kesulitan ekonomi sering kita mendengar saudara-saudara kita “terpaksa” menggadaikan imannya. Namun bila ayat diatas direnungkan, jika kita yakin akan kembali kepada Allah, bahwa segala amal akan dihisab pada hari pembalasan, dan setiap perbuatan sebesar zarrah pun akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah. Mengapa iman kita goyah hanya karena kesulitan ekonomi?, mengapa takut difitnah bila kita yakin yang kita lakukan benar dalam pandangan Islam? Mengapa kita iri pada orang yang bergelimang maksiat tapi kaya raya? Alangkah bodohnya kita bila menilai keadilan Tuhan hanya dengan materi?. Diriwayatkan dari Anas ra, Rasullulah bersada: “Apabila Allah menghendaki hambaNya itu menjadi orang baik maka Ia menyelenggarakan siksaanNya di dunia ini, dan apabila Allah menghendaki hambaNya itu menjadi orang jahat maka Ia menangguhkan balasan dosaNya sehingga akan dituntut nanti pada hari kiamat.”

Betapa banyak kita menyaksikan orang-orang yang diberi rezeki tidak membuat mereka bersyukur kepada Allah SWT, malah membuat mereka lupa diri. Punya kekayaan, pasangan hidup yang cantik, dan popularitas, menjadikan mereka hamba-hamba yang diperbudak dunia, segala cara dihalalkan untuk menumpuk harta yang tidak pernah habis bahkan sampai tujuh turunan. Untuk memenuhi hawa nafsu, tidak segan menyuap atau menerima suap yang penting “aku menang”. Allah menangguhkan balasan “buat mereka”. Bergelimang harata namun pada hakekatnya merekalah orang-orang yang merugi. Karena kenikmatan duniawi yang mereka bela mati-matian, suatu saat nanti pasti akan ditinggalkan.

Maka mengapa kita silau dengan kekayaan dan kemewahan, hingga kita tidak sadar bila diuji dengan kekurangan harta. Allah SWT berfirman “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al Baqarah : 155). Rasullulah bersabda “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sesuatu bangsa maka Allah menguji mereka; barangsiapa yang ridha maka Allah akan meridhainya dan barangsiapa yang murka maka Allah akan memurkainya”. (HR At Turmudzy).

Coba kita simak kisah Nabi Ayub AS, meski diberi penyakit yang tak kunjung sembuh, hingga istrinya pun pergi meninggalkannya, namun bibirnya tak pernah berhenti memuji Allah (QS Al Anbiya: 83-84), begitu juga kisah Nabi Yusuf AS, betapa beliau dipenjara untuk kesalahan yang tidak pernah beliau lakukan ( baca kisahnya dalam surat Yusuf : 3-100) namun Nabi Yusuf AS tetap bersyukur dan ikhlas menerima ujian dari Allah, bahkan penjara baginya lebih baik daripada maksiat kepada Allah. Nabi Muhammad SAW, kekasih Allah pun melewati ujian, terlahir sebagai yatim, kemudian di usia kanak-kanak ibunya wafat. Setelah diangkat menjadi rasul beliau mendapat hinaan dan fitnah yang tak pernah berhenti, bahkan hendak dibunuh kalau rasulullah tidak berhenti berdakwah.

Dari kisah para rasul, kita dapat menarik hikmah, justru mereka diangkat menjadi manusia pilihan, karena berhasil mengadapi ujian dan cobaan yang sangat berat. Jadi, Mengapa kita terlalu berduka bila tertimpa musibah? Bukankah setiap musibah jika kita ridho, akan merontokkan dosa-dosa kita?

Rasullulah saw bersabda,”Memang sangat menakjubkan keadaan orang mukmin itu; karena segala urusannya sangat baik baginya dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi seseorang yang beriman, dimana bila mendapatkan kesenangan ia bersyukur maka yang demikian itu sangat baik baginya, dan bila ia tertimpa kesusahan ia sabar maka itu sangat baik pula baginya” (HR Muslim). Dari hadits ini menunjukkan betapa segala situasi bagi orang beriman adalah baik. ketika kita mendapat nikmat, bila disyukuri nikmat itu, Allah akan menambah nikmat itu berlipat ganda, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmatku, maka pasti azabku sangat berat.” ( QS Ibrahim : 7).

Bila musibah menimpa, tidak mengurangi ketaatan kita kepada Allah, dan tetap bersabar , Allah berjanji akan memberi pahala tanpa batas, ”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar : 10). Subhanallah, betapa tak terhingganya ganjarannya bagi orang-orang yang bersabar bila tertimpa musibah. Tidak hanya itu, Rasulullah SAW bersabda ”Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun kedukacitaan, sampai-sampai tertusuk duri, niscaya Allah akan menebus dosanya dengan apa yang menimpanya itu” (HR Bukhari dan Muslim). Tentu saja bila kita menerima ujian itu dengan ikhlas.

Bagaimana kita menyikapi musibah yang menimpa kita? Pertama: Kita harus yakin bahwa semua terjadi atas kehendak Allah. Tak perlu kita mencari “Kambing hitam”, atau bertanya mengapa dan mengapa? Hal ini akan membuka peluang iblis untuk semakin “semangat” menggoda kita.

Kedua: Bersabar dan tetap istiqomah dalam ketaatan kepada Allah. “Sabar” bukan bermakna pasif. Sabar yang benar adalah ikhlas menerima musibah, namun tetap harus sabar berikhtiar agar di masa depan lebih baik lagi.

Ketiga: Jadikan kegagalan dan kepahitan hidup sebagai guru yang baik, pengalaman hidup yang sangat berharga, hingga untuk selanjutnya kita tidak terpelosok di lubang yang sama.

Keempat: Jangan berkeluh kesah, karena tidak akan menyelesaikan masalah, justru membuat ujian itu makin berat kita rasakan.

Kelima: Baik sangka kepada Allah, yakinlah Allah memberi ujian pasti sudah diukur sesuai kemampuan hambaNya. Ingatlah dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.

Keenam: Semakin mendekati diri dengan Allah, karena hanya Dia yang mampu menolong segala kesulitan kita, perbanyak ibadah-ibadah sunnah, puasa, sedekah dan memohon padaNya di penghujung malam, menangis dan mengadu padaNya disaat mayoritas manusia terbuai mimpi. Sungguh, tiada jarak antara kita denganNya, tak perlu pakai perantara, langsung curahkan segala kepahitan hidup hanya padaNya.

Ketujuh: Sempurnakan ikhtiar atau usaha, kemudian pasrahkan hasilnya kepada Allah, karena kita tidak bisa mendikte Allah sesuai yang kita mau. Allah lebih tahu yang terbaik buat hambaNya.

Kedelapan : Bersyukur, lihatlah masih banyak nikmat-nikmat Allah yang sering terlupakan. Jangan kerena musibah yang Allah berikan kita jadi mengkufuri nikmat Allah yang lainnya atau bahkan menggadaikan iman kita untuk sebuah materi. Jauh lebih berharga nikmat iman yang bersemayam di hati kita dari segala kesenangan dunia yang fana.

Semoga dengan delapan cara menyikapi musibah ini, kita akan lebih tenang menghadapi setiap cobaan yang Dia berikan. Pahitnya kehidupan, tidak membuat kita berpaling dariNya, justru menbuat kita semakin ”semangat” mengejar “cinta”Nya. Itulah hikmah terindah dibalik setiap cobaan. Wallahu’alam bishshawab. (Lva)

Stop Syirik !

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya (Qs An Nisa: 116)” Dari ayat tersebut jelas betapa besar murka dan ancaman Allah bagi manusia yang menyekutukanNya .Allah mengutus rasul-rasulNya untuk mengemban tugas yang sama yaitu meluruskan aqidah dan mengajak manusia kepada jalan tauhid dan menjauhi syirik. Seperti firman Allah,” Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun (berbuat syirik)” (Qs An Nisa: 36).

Bila kita mau jujur, sungguh perbuatan syirik di zaman sekarang ini, sudah menjadi komoditi, mewabah bahkan menjadi trend. Saksikan saja di televisi, iklan-iklan yang mengajak kepada kesyirikan begitu marak, berlomba merayu permirsa. Dikemas begitu indah dan halus dengan teknologi canggih cukup mengirim sms, tidak perlu pergi ke dukun atau ke tukang ramal untuk bertanya tentang masalah jodoh, karir, rezeki, dll. Sangat memprihatinkan, dan membahayakan aqidah ummat,meski via sms padahal hakekatnya sama, kita telah terjerat perbuatan yang sangat dimurkai Allah yaitu syirik. Jelas dalam hadits shahih Rasullulah bersabda,”Barangsiapa mendatangi tukang ramal dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu, lalu ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari (HR Muslim).

Semoga kita terhindar dari perbuatan yang benar-benar merusak aqidah dan sangat dimurkaiNya. Kita harus yakin semua yang terjadi di alam ini, pasti atas kehendak Allah, jadi tak sepantasnya kita menggantungkan harapan kepada mahlukNya. Bukankah Allah berfirman,”Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya bagimu, jika kamu berbuat hal itu, maka sesungguhnya kamu, termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).”(Qs Yunus: 106). Tak hanya ditelevisi, kesyirikan juga banyak diiklankan di media cetak, seperti memasang jimat, pemanis wajah, penglaris dagang, juga yang trend dikalangan anak muda yaitu ramalan bintang.

Mengapa semua itu disebut perbuatan syirik? Syaikh Abdurrahman Hasan, dalam bukunya Fathul Majid, mengatakan syirik adalah menyamakan mahluk dengan Al Khalik (Allah), dalam hal-hal yang merupakan hak mutlak Allah. Jika kita bertanya kepada paranormal tentang masa depan seperti jodoh, rizki dsbnya, bukankah sama saja kita menyamakan paranormal dengan Allah?, Naudzubillahimindzalik, sungguh tak pantas kita menduakanNya. Padahal kita yakin hidup, mati , jodoh, rezeki diatur Allah dan peristiwa yang akan datang, merupakan sesuatu yang gaib, yang menjadi misteri Illahi. Bahkan rasululah, manusia yang paling mulia pun, tidak diberi wewenang oleh Allah untuk mengertahui hal-hal yang gaib, kecuali apa yang diwahyukan Allah padanya.

Disamping perbuatan syirik yang nyata, juga ada syirik tersembunyi, yaitu riya. Riya adalah menampakkan ibadah agar dipuji manusia. “…..Maka barangsiapa mengharap berjumpa dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal sholeh, dan janganlah ia berbuat syirik sedikit pun dalam beribadah kpd Tuhannya,’ (Al Kahfi: 110), Rasullulah bersabda,” Syirik tersembunyi yaitu ketika seseorang berdiri melakukan shalat, dia perindah shalatnya itu karena mengetahui ada orang lain memperhatikan,” (HR Iman Ahmad). Maka waspadalah, riya justru ada dalam diri orang yang taat ibadah. Sungguh syetan itu tak pernah lelah mengelincirkan manusia dengan segala cara

Marilah kita luruskan niat dalam ibadah untuk mencari keredhoan Allah, bukan untuk pamer. Sejatinya kita manusia, mahluk yang lemah tiada daya, tanpa pertolongan Allah. Hanya padaNya kita memohon dan berlindung. Bila kesulitan hidup melilit, jangan pertanya ke tukang ramal, yuk bangun di penghujung malam menggapai pertolongan Allah dengan tahajud. Jika beribadah, yuk luruskan niat dari noda riya dan sombong yang akan mengotori keikhlasan kita bahkan membawa kita kepada syirik. Wallahu a ‘lam bishshawab (Lva)

Jangan Menduakan Allah

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS Al Baqarah : 165)

Ayat diatas jika kita renungkan dan kemudian kita jujur mengakui, sungguh sindiran yang sangat tajam bagi manusia, yang sering “Menuhankan” sesuatu. Contohnya, atas nama kebebasan berekspresi, segala tatanan moral, norma agama, dilanggar, maka lihatlah di televisi tayangan yang mengumbar aurat, pornografi, pornoaksi, mistik, iklan-iklan perdukunan dsb menjadi hiburan, padahal jelas dalam hadits dan Al Quran itu diharamkan. Hal ini menunjukan dalam kehidupan ini Allah bukan lagi yang utama.

Bagaimana caranya menjauhkan perbuatan syirik pada diri kita dan menanam keyakinan agar di hati ini tidak ada Illah lain kecuali Allah. Untuk itu sebaiknya kita memahami ilmu tauhid, agar kita sadar mengapa sebagai hamba, kita tidak boleh “menduakanNya” .

Tauhid yang pertama disebut Tauhid Rububiyah , yaitu mengesakan Allah dalam hal perbuatanNya, kita meyakini tanpa keraguan bahwa Allah yang menciptakan alam raya ini beserta isinya, Allah jua yang memberi rezeki kepada mahlukNya. Allah menguasai hidup dan mati seluruh mahluk di jagat raya ini, Allah yang mengatur perputaran planet ini. Allah yang mendatangkan musibah dan kenikmatan bagi mahlukNya

Jika Rububiyah kita sudah mantap, ini belumlah cukup karena Allah berfirman,” Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka?” niscaya mereka menjawab Allah. Maka bagaimana mereka dapat di palingkan (dari menyembah Allah)? (Qs Al Zukhruf : 87), kemudian Allah juga berfirman, “Katakanlah,’Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan mempunyai arsy yang besar? Mereka akan menjawab Kepunyaan Allah. Katakanlah,”Mengapa kamu tidak bertakwa?” (Al Mukmukminun: 86-87). Masih banyak ayat-ayat yang mengatakan orang-orang musyrik mengakui tauhid Rububiyah. Namun pengakuan saja belumlah cukup, perlu bukti nyata dalam amalan atas pengakuan mereka terhadap keesaan Tuhan.

Selanjutnya tauhid Uluhiyah, artinya mengesakan Tuhan dalam setiap peribadatan yang telah disyariatkan, amalan yang semata-mata di tujukan kepada Allah. Kaum musyrikin secara umum mengakui Allah sebagai pencipta segalanya, namun mereka dalam amalan masih menyekutukan Allah. Allah berfirman,”Bahkan mereka mengambil pemberi syafaat selain Allah. Katakanlah ‘Dan apakah kamu mengambilnya juga meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?’ Katakanlah, ‘Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. KepunyaanNya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan (Qs Az zumar : 43-44) dalam ayat lain Allah berfirman,”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan),”Sembahlah Allah (saja), jauhilah Thagut, lalu diantara umat-umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada orang-orang yang telah dipastikan sesat. Oleh karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yag mendustakan rasul,”(An Nahl:36)

Jelas tujuan Allah mengutus rasul-rasulNya ialah mengajak manusia kembali ke agama tauhid yaitu Islam, karena tauhid yang dibawa oleh para rasul mengandung penetapan keilahiyahanNya dengan bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Konsekuensinya adalah kita harus yakin , tidak ada tempat bertawakal kecuali kepadaNya, tiada yang lebih kita cintai kecuali Dia, dan tiada yang lebih kita takuti kecuali murkaNya. Allahuakbar, bila tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah, sudah mengkristal di setiap jiwa yang mengaku beragama Islam, tak akan ada lagi korupsi karena muncul rasa takut di lihat Allah, tiada lagi perzinaan karena merasa disaksikan Allah, tiada lagi perdukunan, karena yakin tiada satu pun yang bisa mendatangkan mudarat dan manfaat kecuali hanya Dia. Sungguh, dampak dari mantapnya pengakuan terhadap kemahaesaan Allah, akan terpancar dalam setiap segi kehidupan kita.

Sebagai rukun Islam yang pertama syahadat adalah pengakuan kita meniadakan tuhan lain kecuali Allah dan Muhammad saw sebagai rasulullah. Bila syahadat kita benar, akan tampillah jiwa-jiwa yang bersih dari perbuatan syirik. Allah berfirman,” Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang menepati jalan hidayah (Qs AL An’aam:82). Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat itu menyatakan maksudnya ‘mereka’ adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja. Mereka tidak menyekutukanNya sama sekali. Mereka itulah orang-orang yang tenteram pada hari kiamat dan mendapat petunjuk di dunia dan akhirat.

Tujuan hidup orang-orang yang beriman bukan hanya di dunia saja, tentu yang utama adalah menggapai keridhoan Allah, agar mendapat kebahagian di akhirat juga. Untuk itu mari kita bersihkan hati dan amalan kita dari perbuatan sryirik, yang sangat dimurkai Allah, karena sesungguhnya Allah sangat keras ancamanNya bagi orang-orang yang menduakanNya. Wallahu’alam bisshawab(Lva).

Dari tulisan Ust. Syaifuddin dan buku Fathul Majid.

Senin, 18 Agustus 2008

Bila Ajal Menjemput

Tiada satu pun mahluk dimuka bumi ini, yang tidak takut kepada kematian, karena kematian itu adalah yang memisahkan kita kepada semua yang kita cintai, baik itu anak-anak, harta, pangkat dan seluruh kenikmatan duniawi. Tapi disisi lain sebagai orang yang beriman kita harus meyakini, hidup di dunia ini, hanyalah persinggahan sementara, tempat kita yang abadi adalah di akhirat nanti. Kendatipun kita yakin bahwa setiap mahluk yang bernyawa pasti akan mati, kita tidak akan pernah tahu kapan ajal itu akan menjemput.

Ketika masa kanak-kanak, saya punya seorang teman dekat, Nova. Selain cantik karena dia keturunan Belanda dan Cina dia juga pintar. Kami terus bersama, sampai ketika perguruan tinggi, kami berpisah. Dia kuliah di Jakarta, sedangkan saya di Bandung. Namun sebagai sahabat kami tetap menjalin hubungan silaturahim, kadang saya yang ke Jakarta, atau dia yang ke Bandung. Bagi saya dia teman yang menyenangkan serta sahabat yang saling mengisi dalam suka dan duka.

Ketika diawal tahun 1990, saya yang aktif di masjid Salman ITB dan santri Darut Tauhid pimpinan KH Abdullah Gymnastiar atau dikenal dgn Aa’ Gym, mulai tergerak untuk menutup aurat, seperti yang diperintahkan Allah dalam Surat An Nur ayat 31. Ketika melihat saya dengan busana muslimah, Nova kaget sekali, seakan melihat hantu di siang bolong, “ Gila, lu udah benar-benar mau seperti ini, kita masih muda, dengan penampilan seperti ini, mana ada yang mau menerima kita kerja, apalagi jadi reporter seperti cita-citamu dulu, ntar saja pakai jilbabnya kalau udah tua,” itu yang dia katakan. Saya hanya tersenyum, saya katakan padanya, “Kita tidak tahu umur kita sampai tua atau tidak,” lalu saya menunjuk ke pohon jambu yang sedang berbuah, “Lihatlah buah jambu itu, banyak yang rontok, tidak hanya buah yang tua tapi juga buah yang masih muda, bahkan ada yang masih berupa bunga. Jadi kita tidak tahu umur kita apakah sampai tua, tidak ada yang bisa menjamin apakah besok kita masih hidup atau tidak,” Nova hanya tersenyum kecut, namun sepertinya dia sulit menerima.

Sebulan kemudian, menjelang lebaran, saya dan Nova mudik ke kota kecil asal kami, Dumai yang ada di propinsi Riau. Kami selalu bersama, bahkan Nova tidur di rumahku, secara pelan-pelan aku terangkan padanya kewajiban menutup aurat bagi muslimah yang sudah baligh, sepertinya dia belum menerima, aku bisa mengerti, dari kecil meski beragama Islam, namun ia tidak dididik secara islami.

Ternyata malam itu adalah malam terakhir aku tidur dengan Nova, gadis cantik dan pintar itu besok malamnya meninggal ketika mobil yang dikendarainya masuk jurang, sebenarnya aku akan ikut ketika ia menjemputku, tapi karena ada urusan, aku tidak bisa menemani, lalu dengan kecewa dia berangkat sendiri. Aku tak mampu membendung kesedihan, kuraba wajah cantiknya yang nyaris hancur, rasanya aku seperti mimpi, baru beberapa saat yang lalu tubuh yang terbujur kaku itu tertawa, tapi sekarang dia telah pergi untuk selamanya, dalam usia 19 tahun. Ya Allah, betapa tipisnya beda hidup dan mati, dan aku semakin sadar bahwa sesungguhnya hidup dan mati mutlak dalam genggamanMu.

Innalillahiwainnaillaihiroji’un, Nova sahabatku, semoga Allah mengampuni segala dosamu.(Lva)

Taubat, Why Not ?

“Sesungguhnya Allah Ta’ala senantiasa membentangkan tanganNya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat jahat pada waktu siangnya dan membentangkan tanganNya pada siang untuk menerima taubat orang yang berbuat jahat pada malamnya. Yang demikian itu berlangsung terus sampai matahari terbit di sebelah barat.”

(HR. Muslim)

Ketika mendengar seorang rocker meninggal dunia di penghujung bulan Januari, saya sempat meneteskan air mata haru. Saya teringat tahun 1995 ketika saya masih bekerja sebagai jurnalis di salah satu media cetak nasional, saya menulis pengalaman rohani rocker itu, yang ketika itu masih dalam transisi ”mencari Tuhan”. Saat itu saya ceritakan masa lalunya yang berlumuran dosa, betapa tidak 23 tahun ia bergelimang dengan narkoba dan miras, ketenaran sudah ia genggam, namun semua itu tiada arti ketika hatinya terasa hampa, jauh dari Allah. Saya ingat betul, betapa matanya berkaca mencurahkan penyesalannya dan sangat ingin kembali ke jalan yang lurus alias bertaubat.

Kenangan itu sudah 12 tahun berlalu, karena hijrah ke Surabaya, saya kehilangan kontak dengannya, tapi saya dengar beliau sudah berubah menjadi seorang dai yang tak kenal lelah berdakwah, meski kanker menggerogoti tubuhnya, namun semangatnya untuk mengajak ummat kembali ke jalan Allah tetap membara. Semoga Allah menerima beliau di sisiNya.

Kematian adalah misteri Illahi, hanya Allah yang tahu kapan kita akan mati, sedang apa, apakah suulkhotimah atau khusnulkhotimal, wallahu a’lam bishshowab. Namun sebagai manusia, kita menyadari tiada yang pasti di dunia ini, kecuali kematian. Terkadang kita terlalu pede alias percaya diri, seakan-akan kita akan hidup seribu tahun lagi hingga kita terlena oleh kesenangan duniawi yang menipu.

Sungguh banyak firman Allah, mengajak kita untuk segera bertaubat diantaranya dalam surat Hud, 11:31 yang artinya ” Mohon ampunlah kamu sekalian kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepadanya”. Juga dalam surat An Nuur, 24:31 yang artinya ”Bertaubatlah kemu semuanya kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kamu sekalian berbahagia”.

Kalau kita mengkaji lebih dalam, betapa cintanya Allah kepada hambanya, Allah sang Pencipta, sangat mengetahui bahwa manusia tidak ada yang bersih dari dosa, untuk itu Dia membuka pintu taubat seluasnya. Namun manusialah yang sering mengulur-ngulur waktu ”ntar aja kalau udah tua” atau misalnya ketika seorang muslimah belum menutup aurat, lalu ia mencari pembenaran dengan mengatakan, ”Nanti saja, saya mau menjilbabkan hati dulu, percuma berjilbab, kalau hatinya masih kotor,”dan seribu alasan pun keluar dari bibir kita, untuk menunda-nunda ,menjalankan aturan yang diwajibkan Allah SWT. Seolah-olah kita begitu yakin usia kita akan panjang.

Rasulullah SAW bersabda ” Sungguh Allah itu lebih gembira untuk menerima taubat hambaNya, melebihi kegembiraan seseorang diantara kamu sekalian, yang menemukan kembali untanya yang telah hilang ditengah-tengan padang sahara(HR. Bukhari Muslim). Subhanallah, masih banyak lagi hadits-hadits shohih yang menjelaskan betapa bahagianya Allah, mendengar rintihan penyesalan hamba-hambanya yang memohon ampun atas segala dosa-dosanya.

Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk putus asa atas ampunan Allah, atau untuk menunda-nunda untuk memohon, merintih dan menangisi segala kemaksiatan yang kita lakukan. Sebelum ajal sampai di tenggorokan, Allah akan menerima taubat kita.

Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari dan seterusnya, tanpa kita sadari kita menuju kematian, pernahkah kita merenung, jika sang malaikat maut datang, apa bekal yang harus kita bawa, semua keindahan duniawi akan sirna. Apakah kita termasuk orang-orang terpilih yang sempat bertaubat sebelum ajal menjemput.? Semuanya hanya hati nurani kita yang mampu menjawabnya.

Al Qur’an surat Ali Imran, 3:133 menyatakan ”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”. Hati yang jernih, mampu merenungi betapa hidup di dunia ini hanya kesenangan yang menipu, kebahagiaan yang hakiki adalah ketika ajal menjemput, kita wafat dengan khusnulkhotimah. Inilah kesuksesan yang sebenarnya. Namun semua itu hanya dapat diraih oleh orang-orang yang beriman, karena Allah hanya menyeru kepada hamba-hambanya yang beriman saja untuk bertaubat. Maka siapapun saya, anda, mari jangan tunda lagi, yuk kita segera bertaubat, betapapun besarnya dosa kita, seluas langit dan bumi. Insya Allah pintu taubat selalu terbuka. Taubat, Why Not ?(Lva)

Mengapa Kita Perlu “NGAJI”?

Sebelum Islam datang, ada tradisi orang-orang Quraisy yang baru pulang dari haji masuk ke rumah melalui pintu belakang. Begitu pula kaum Anshar, mereka punya kebiasaan apabila pulang dari perjalanan, tidak mau memasuki rumah melalui pintu depannya, tetapi melalui belakang. Tata cara tersebut dianggap sakral.

Suatu ketika, seseorang yang baru berihram memasuki rumah dari pintunya, maka orang-orang mengadu kepada Rasulullah saw. tentang hal itu. Lalu turunlah ayat “……dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertaqwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. (Q.S. 2:189)

Ayat tersebut adalah teguran bagi umat Islam pada masa itu agar berbuat kebajikan yang berlandaskan ketaqwaan pada Allah SWT.

Pada hakikatnya, ayat tersebut menghendaki seorang muslim untuk senantiasa memperhatikan amal kebaikannya, untuk mempertimbangkan: “sudahkah suatu amal kebaikan itu dilaksanakan dengan keta’atan pada Allah (dan rasul-Nya)?”, walaupun amalan itu sekedar memasuki rumah sendiri.

Tradisi-tradisi yang dianggap sakral seperti itu sampai kini masih banyak sekali dilakukan oleh umat Islam di berbagai wilayah, yang bila ditelisik dengan standar Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. ternyata sangat jauh bertentangan. Mungkin kita pun tanpa sengaja melakukannya, akibat malas menuntut ilmu agama. Meskipun maksud

perbuatan kita baik, bila tidak dilakukan

dengan cara yang benar sebagaimana syari’at Islam, maka apa yang kita lakukan tidak menjadi sebuah kebajikan yang mendatangkan ridha Allah SWT. Betapa meruginya, bila segala upaya kebaikan yang kita lakukan bermodal pikiran, tenaga, dan harta benda, tidak menambah sedikitpun keridhaan Allah, hanya karena salah pedomannya.

Maka “ngaji”atau menuntut ilmu agama menjadi satu keharusan bagi kita, apabila ingin beramal dengan benar. Ribuan ayat Allah dalam Al-Qur’an dan seluruh perilaku Rasulullah saw. yang dikisahkan dalam puluhan ribu hadits, tak akan habis kita pelajari sepanjang hayat. Kalau begitu, bagaimana mungkin kita melewatkan sisa hidup kita tanpa mempersiapkan diri menghadapi suatu hari yang tidak akan luput seorang pun dari pertanggung jawaban?

Mari kita mulai biasakan “ngaji”, agar bisa beramal dengan benar hingga tercatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat benar, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Hendaklah kamu berpegang pada kebenaran (dalam kata dan perbuatan) karena sesungguhnya kebenaran itu memimpin kepada kebaktian dan kebaktian itu membawa ke surga; dan hendaklah tetap seseorang (bersifat) benar dan memilih kebenaran hingga dia tertulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat benar; dan hendaklah kamu jauhi kedustaan, karena sesungguhnya kedustaan itu memimpin kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan membawa ke neraka; dan (janganlah) seseorang tetap (suka) berdusta dan memilih kedustaan hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta”. Muttafaq ‘Alaih. (Riz)

Kehidupan Yang Menipu

Kehidupan Yang Menipu

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadiid:20)

Allah SWT menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan. DibekaliNya manusia dengan potensi akal, jiwa, dan jasmani yang terbaik di antara ciptaan Allah lainnya. Semua potensi itu mendorong manusia untuk berpikir dan bertindak kreatif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Itu sebabnya kehidupan manusia selalu disibukkan dengan sederet keinginan, cita-cita, harapan, dan angan-angan yang ingin diwujudkannya dalam hidup ini.

Bagaimana tingkah laku manusia dalam hidupnya, Allah gambarkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an. Tujuannya agar manusia bisa mengambil pelajaran dan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah SWT. Ayat di atas adalah salah satu di antaranya.

Ayat tersebut adalah gambaran Ilahiah tentang keadaan hidup manusia. Terbagi-bagi dalam beberapa masa, yaitu: permainan (la’ibun), kelalaian (lahwun), perhiasan (ziinatun), bermegah-megah (tafaakhurun), berbangga-bangga (takaatsurun), dan akan sirna. Jika kita renungkan, sesungguhnya memang demikianlah yang terjadi dalam perjalanan hidup manusia di dunia ini.

La’ibun atau permainan, menggambarkan masa anak-anak. Kehidupan di masa bermain itu dilewati dengan senda gurau dan keceriaan. Mungkin adakalanya anak-anak sedih, tapi itu hanya sesaat. Mereka bisa dengan cepat melupakan persoalan dan kembali bermain-main bersama teman-temannya. Anak kaya, anak miskin, anak korban gempa, anak korban lumpur, atau anak jalanan, semuanya bisa melalui hari-harinya dengan bermain dan bersenda gurau.

Saat anak-anak mencapai usia puber atau remaja, tibalah saatnya masa Lahwun atau masa melalaikan. Pada masa ini rata-rata remaja menjalani kehidupannya dengan ringan. Mereka sudah tidak bermain-main layaknya anak-anak. Mereka sudah mengerti tanggung jawab, tapi mereka lakukan dengan semaunya. Akibatnya mereka sering melalaikan atau kurang peduli pada tanggung jawabnya.

Ziinatun atau hiasan, adalah gambaran masa muda dewasa muda). Setelah masa remaja puber dilewati, manusia akan menuju kedewasaan. Saat itu perkembangan fisik manusia mencapai kesempurnaan, indah laksana perhiasan. Karenanya mereka sangat memperhatikan penampilannya. Mereka berusaha mengikuti perkembangan mode agar selalu bisa tampil cantik atau gagah dan menarik perhatian.

Usia bertambah, kemudaan sedikit berkurang. Manusia memasuki masa dewasa. Tibalah masa Tafaakhurun atau bermegah-megahan. Ini adalah gambaran kehidupan manusia setelah mempunyai kemampuan berpikir yang matang. Mereka berusaha meraih apa yang dia impikan dalam hidup ini. Ukuran kesuksesan hidup di masa ini adalah sekolah yang tinggi, pekerjaan yang bagus (penghasilannya), jabatan yang bergengsi. Makin bergengsi, makin megah dan sukseslah kehidupannya.

Selanjutnya adalah masa Takaatsurun atau berbangga-banggaan tentang harta dan anak, yang menggambarkan kehidupan manusia di masa tuanya. Ketika itu fisik manusia semakin lemah, daya ingatnya semakin menurun, dan wajah sudah hilang daya tariknya. Maka tidak ada lagi sesuatu pada dirinya sendiri yang bisa dibanggakan. Lalu mulailah manusia menonjolkan anaknya dan harta yang telah dikumpulkannya. Percakapan di antara mereka tak lepas dari banyaknya keturunan, anak yang sukses atau hidup mapan, dan besarnya kekayaan hasil usaha bertahun-tahun. Kesuksesan anak, banyaknya keturunan, maupun banyaknya harta simpanan menjadi kebanggaan di kalangan orang tua.

Itulah lima masa kehidupan manusia di dunia ini. Subhanallah, Allaahu Akbar. Maha Benar Allah. Gambaran tersebut semuanya terjadi, dan selalu terjadi sepanjang zaman kehidupan.

3

Allah mengibaratkan kehidupan manusia dan apa yang telah diraihnya di dunia ini dengan tanaman yang tumbuh baik setelah terkena hujan. Mengagumkan. Akan tetapi suatu saat tanaman yang mengagumkan itu akan kuning mengering lalu hancur. Begitu pula hidup, ada masanya manusia akan mati lalu hancur jasadnya. Maka kesenangan dan kebanggaan kehidupan dunia sebenarnya hanyalah kesenangan yang menipu.

Setelah mati, tidak ada lagi kesenangan atau kebanggaan yang bisa ditonjolkan. Di akhirat hanya menanti dua kehidupan: yang penuh adzab dan yang penuh ampunan dari Allah SWT. Orang-orang yang lalai dari tujuan hidup akhiratnya dan tidak mau mengikuti petunjuk Allah, akan menjalani kehidupan penuh siksaan yang sangat pedih.

Sebaliknya, orang-orang yang beriman dan senantiasa mengarahkan hidup dunianya untuk ta’at pada Allah dan rasul-Nya, akan memperoleh ampunan dan keridhaan. Mereka akan mereguk kesenangan yang sejati dan abadi.

Maka marilah bersegera menyempurnakan iman dan ‘amal sholeh. Berlomba-lomba menuju ampunan Allah SWT dan surga, yang luasnya seluas langit dan bumi. Itulah tujuan sebenarnya dari kehidupan manusia di dunia ini. (riz)

Dari Kajian Tafsir oleh Ust M. Zaini, pengajian “Sakinah” SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Selasa, 8 Januari 2008.